PROPOSAL PESERTA

PENELITIAN DAN REVITALISASI UPACARA TRADISIONAL NGAYUN LUCI

M. Ali Surakhman

Kota Jambi, Jambi

VOTE : 6

Lembaga Terkait

  • Institut Dayakologi
  • Dewan Kesenian Jakarta
  • Indonesian Visual Art Archive (IVAA)
  • Museum Nusa Tenggara Timur
  • Studio Audio Visual Puskat
  • Tikar Media Budaya Nusantara

Deskripsi

Upacara Asyeik adalah upacara ritual suku Kerinci, upacara ritual ini merupakan upacara pemanggilan roh-roh nenek moyang, dengan mengunakan obyek-obyek tertentu ( pusaka, tumbuh-tumbuhan, batu-batuan ) dengan tujuan untuk menolak bala dan menuntun anak cucu (masyarakat Kerinci) kearah kebenaran dan kebaikan, salah satunya upacara ritual Ngayun Luci. Ngayun artnya mengayun, sedangkan Luci adalah wadah atau tempat yang dibuat sedemikian rupa, bentuk Luci seperti kerucut dibalik dan diatasnya ditaruh burung-burungan yang terbuat dari kayu dan isinya adalah buah-buahan hutan.
 
Upacara ritual Ngayun Luci disebut juga Upacara Aseak Ngayun Luci, karena upacara berlansung luci diayun-ayun oleh pawang atau dukun, Aseak kuno ini sangat spesifik yang secara historis menggambarkan pola hidup tradisional masyarakat suku Kerinci, yang berasimilasi dengan alam, percampuran antara kebudayaan primitif dan pengaruh Islam, sehingga tercipta suasana eksotik yang mempunyai kekuatan magis, dengan irama dan syair rendah, lembut kemudian naik ke irama nada-nada tinggi yang mendayu, sehingga membawa kita kealam ritual dan religius.
 Upacara tradisional Aseak diwariskan secara turun-temurun dari generasi-kegenerasi, akibat proses perjalanan waktu serta pengaruh transformasi kebudayaan dengan terbukanya perkembangan informasi yang membawa arus modernisasi yang kuat, tradisi ini mulai pudar dan hampir punah.

Tujuan


Sebagai sarana dan bahan pendukung pembinaan dan pengembangan pembangunan kesenian dan kebudayaan daerah Jambi dalam upaya mempertahankan dan mempromosikan aset seni budaya daerah Jambi.
Mendapat data selengkap mungkin mengenai kegiatan “Upacara Ngayun Luci” yang diselenggarakan oleh masyarakat Kerinci
Mengembangkan dan meningkatkan hasil-hasil yang telah dicapai dalam penelitian, penulisan dan pendokumentasian “Upacara Ngayun Luci” dalam rangka memperkaya bahan referensi budaya Jambi.
Sebagai sarana pendukung pembinaan dan pengembangan kesenian dalam upaya pelestarian nilai-nilai seni budaya

Masalah

Terjadinya perubahan orientasi nilai budaya ke arah nilai-nilai pasar yang menimbulkan efek negatif dalam perilaku sosial di tengah masyarakat. Kekuatan pasar dan kapitalisme yang menjadi inti dari globalisasi ikut mengubah orientasi nilai budaya bangsa Indonesia sehingga memunculkan identitas dan perilaku baru yang tidak sesuai dengan nilai, tradisi dan budaya lokal-tradisional. Proses interaksi yang dilandasi oleh kepentingan ekonomi-pasar telah memunculkan terciptanya kondisi pemaksaan kultur “baru” yang dibentuk oleh pasar dan kapitalisme global ke dalam sendi-sendi nilai, tradisi dan budaya seluruh masyarakat dunia, termasuk di Jambi.
 
Timbulnya perilaku negatif di tengah masyarakat sebagai akibat serbuan globalisasi. Perilaku negatif tersebut seperti semakin kurang tolerannya terhadap perbedaan, maraknya KKN, tegel dan mentolo (heartless), meningkatnya regionalisme (ethnic state), otoritarianisme masyarakat, menipisnya mutual trust, menurunnya kredibilitas para pemimpin, dan luar negeri minded. Perubahan dan pergeseran tatanan hidup yang disebabkan oleh munculnya perilaku-perilaku “baru” yang tidak memiliki referensi nilai-tradisi dalam budaya tradisional masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan oleh berubahnya referensi budaya masyarakat dari model for (sesuatu yang dipelajari dari nilai-nilai normatif tradisional) , kepada model of (sesuatu yang berkembang di masyarakat). Sementara model of yang muncul saat ini, banyak dipengaruhi oleh dampak globalisasi. Secara umum perkembangan itu dapat digambarkan sebagai berikut.
Krisis Moral dan etika merupakan isu penting yang mengakibatkan munculnya mental nrabas, mental feodal, shameless culture (tidak punya malu), hedonisme dan materialisme, pamer (display), kurang percaya diri, dan merebaknya budaya instant.
 
Lemahnya kesadaran budaya berefek pula pada hilangnya kearifan lokal dalam hubungan dengan lingkungan. Uang dan eksploitasi kapitalisme telah memaksa masyarakat untuk “tega” menghabiskan sumber daya alam (hutan dan sumber air) yang secara budaya banyak “dijaga” dengan nilai-nilai tradisional seperti yang kita kenal selama ini dengan istilah “tabu”. Ketakutan untuk melanggar tabu yang berkembang ditengah kehidupan masyarakat selama menjadi pengikat masyarakat untuk tetap mempertahankan keasrian dan kelestarian sumber daya alam. Namun, ketika ada dorongan kuat untuk mendapatkan berbagai barang-barang konsumsi modern dengan harus menyediakan uang dalam jumlah banyak, “tabu-tabu” itu semakin hari kian mudah dilanggar. Tambahan lagi, ketika para pengusaha berkapital besar yang berorientasi terhadap keuntungan secara ekonomis dalam melakukan eksplorasi sumber daya alam semakin membuat nilai-nilai “tabu” di tengah masyarakat hanya tinggal cerita. Masyarakat “dipaksa” untuk semakin tidak percaya pada tabu dan ikut mengekplorasi berbagai sumber daya alam untuk kepentingan ekonomi semata.
Sedangkan sikap toleransi antar masyarakat juga semakin luntur, yang ditandai oleh terjadinya kecemburuan sosial, prasangka sosial, dan bahkan kerusuhan atau tawuran antarwarga yang berbeda agama, atau antarsuku. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, potensi konflik jelas memungkinkan dan mudah terjadi apabila diprovokasi. Oleh karena itu toleransi sebagai peredam emosi keagamaan menjadi penting bagi masyarakat majemuk seperti Indonesia.